Ingat Setahun Yang Lalu?
Kemeja kotak-kotak, celana jeans belel dan tatanan rambut semi mohawk yang gagal. Yep, dengan dandanan mirip pengamen itu, aku berangkat dari tempatku dengan menggunakan taksi yang pengap oleh bau ketek supirnya, untuk menuju sebuah pusat keramaian di Selatan Jakarta, untuk menemuimu yang mungkin sudah menunggu.
Entah konspirasi apa yang terjadi hingga akhirnya taksi yang aku tumpangi terjebak macet di jalan kecil yang ramai oleh mobil pribadi itu. Merasa panik dengan kenyataan bahwa waktu tinggal beberapa menit lagi dan jarak yang ditempuh masih lumayan jauh, aku berpindah haluan ke Bus Transjakarta yang jalurnya masih lumayan steril dari kendaraan lain.
Setelah lari-larian naik tangga penyebrangan, aku akhirnya bisa berdiri sempit-sempitan dengan puluhan orang bau ketek lainnya di dalam sebuah Bus Transjakarta berwarna abu-abu itu. Alhamdulillah, nggak sampai sepuluh menit aku sampai di tempat kita berdua janjian dengan kondisi mengenaskan karena sepanjang jalan diketekin abang-abang.
Berbekal petunjuk seadanya dari seorang satpam yang kumisnya lebat naudzubillah, aku pun berlarian menuju tempat yang kamu sebutkan di sebuah pesan pendek beberapa menit sebelumnya tadi. Aroma cologne yang aku pakai asal-asalan sesaat sebelum pergi, sekarang terasa aneh setelah bercampur dengan keringat hasil lari-larian sedari tadi. Hasilnya, aku memiliki bau seperti anak sapi belum mandi yang dipakein cologne.
“keluar lift di lantai empat, langsung belok kanan. Di sana tempatnya. Makanannya enak-enak, Mas.” Begitulah pesan dari satpam berkumis aneh tadi. Dan ternyata benar, itu tempatnya. Lalu demi meyakinkan diri, aku membuka pesan pendek darimu sekali lagi.
Aku di depan resto kebab nih. Kamu udah di mana? – xxxxx (+628560909898)
Setelah membaca pesan pendek itu, aku langsung mencari resto yang kamu maksud. Beruntung, resto kebab hanya ada satu di sana. Dengan perlahan, aku pun mendekat ke deretan-deretan kursi dan meja yang berada di depannya.
Lalu, di situlah kamu berada. Di antara sebuah meja dan kursi dengan sandaran yang cukup tinggi. kamu sedang meminum lemon tea dari gelas plastik berwarna putih, ketika untuk pertama kalinya aku melihat sekaligus menyadari kalau ternyata kamu sangat cantik hari itu. Rambutmu yang dibiarkan tergerai manis, terlihat pas dengan baju yang kamu kenakan. Sweet. Samar-samar lagu You’re buatiful milik James Blunt bermain di kepalaku.
Sedetik kemudian, mendadak perutku mules. Kegugupan yang luar biasa besar menyergap dada dan mulai naik ke kepala. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari masuk ke lorong tempat di mana wastafel tempat cuci tangan berada. Dengan tidak sabaran, aku mencuci muka sambil berharap semoga ketegangan ini bisa lekas menghilang. Larut bersama debu dan kotoran yang sebelumnya menempel di wajahku yang kusam dan jerawatan.
Setelah membasuh wajah dengan handuk kecil yang selalu aku bawa di dalam tas, aku mencoba mematut diri di depan cermin sekali lagi. Baju kotak-kotak yang tadi rapi, kini sudah kusut mungkin karena berdesak-desakkan di dalam Bus Transjakarta. Celana jeans yang tadi belel, jadi makin belel entah karena alasan apa. Hanya rambut semi mohawk gagalku yang masih berdiri dengan gagahnya.
Tapi lepas dari itu, ada ketakutan luar biasa besar yang aku rasakan di dalam dada. Aku takut ada penolakan yang harus aku tangkap, ketika kamu mendapatiku yang mungkin tidak sesuai dengan harapan yang sudah kamu bangun sendiri di dalam kepalamu. Iya, ketakutan-ketakutan seperti ini selalu berhasil membunuh rasa pede pada setiap blind date di seluruh dunia.
Ketika sibuk mengatasi gugup itu, tanpa sengaja aku menangkap bayanganmu di cermin yang ada di hadapanku. Dari sana terlihat jelas kalau kamu sedang makan dengan pelan, sambil sesekali melihat ke sembarang arah. Mungkin kamu sedang mencariku.
Demi memastikan bahwa itu beneran kamu, aku pun mengambil ponsel dan memencet tanda gagang telepon berwarna hijau setelah mencatut namamu dari dalam phonebook. Sambungan telepon masuk, dan dari bayangan kaca di hadapanku, terlihat jelas reaksi kamu yang terburu-buru mengangkat ponsel. Lalu aku menutup teleponnya, sedetik sebelum sempat diangkat oleh kamu yang lalu kebingungan.
Iya. Itu ternyata benar kamu. Dan mulesku makin menjadi-jadi.
Tapi aku harus berani menghampiri. Tidak ada kata mundur dalam kamusku. Mau nggak mau aku harus berani. Aku terus-terusan menyemangati diri sendiri.
Sekali lagi aku mematut diri di depan cermin. Tampilan kusam tadi, kini berganti menjadi tampilan tidak kusam-kusam amat setelah mencuci muka. Sambil melafadzkan doa-doa langit, aku pun bergegas menghampiri kamu dari arah belakang.
“Hai..” Aku nyengir dan kamu kaget.
“Hei..”
Tidak ada tanda-tanda penolakan, dan kita lalu bersalaman.
Dan detik-detik setelahnya, aku langsung jatuh cinta sama cara kamu tersenyum.
* * *
Sekarang adalah satu tahun setelah hari itu, kita sudah menjadi lebih dewasa, lebih mengenal satu sama lain, lebih bisa saling menghargai dan lebih saling menyayangi. Kita sudah tahu kebiasaan masing-masing, kita sudah tahu keinginan masing-masing, kita sudah hapal cara untuk berbaikan ketika salah satu dari kita ngambek seharian. Kita sering tertawa bersama, tidak jarang pula menangis bersama. Tangisan atau tawa yang akhirnya kita habiskan di bawah selimut sampai ketiduran.
Kita sudah semakin pandai sebagai sepasang orang yang saling sayang.
Ada luka, ada tawa, ada sedih, ada kecewa, ada penolakan, ada penyesalan, ada kita. Ada kamu, ada aku, saling mengisi di saat-saat paling terpuruk dalam hidup kita masing-masing. Saling menguatkan, saling menunjukkan rasa sayang. Saling melengkapi, seperti sela-sela jemari yang saling mengisi ketika tangan kita berpegangan.
Sekarang kita semakin dewasa dan terus tumbuh bersama. Aku makin kecanduan keberadaan kamu. Aku pun semakin sering mengalami proses jatuh cinta pada orang yang sama, pada kamu. Aku juga semakin meyadari kalau secara pelan namun pasti, kamu sudah menjadi salah satu bagian paling penting dalam kehidupanku.
Ya. Ini aku, orang yang sama yang selalu berusaha menjadi sebab bahagianya kamu sejak satu tahun belakangan. Orang yang sama yang akan berbagi peluk kapanpun kamu mau. orang yang sama yang akan selalu berada di tempatnya, hanya demi memastikan kamu baik-baik saja. Orang yang sama yang bersama-sama dengan kamu sudah banyak menyusun mimpi ini itu. Orang yang sama yang ingin menghabiskan hidup dengan terus menjadi partner-mu. Orang yang sama yang akan sayangi kamu apa adanya.
Selamat satu tahun hubungan ini, kamu. Dan.. Selamat menempuh hidup yang baru, kita.
I love you, sayang.
fin
P.s : Surat ini ditulis sambil mendengarkan lagu When You Say Nothing At All-nya Ronan Keeting secara berulang-ulang. Lagu kesukaan kamu.
Filed under: Uncategorized | 1 Comment
Waktu kecil gue pernah bercita-cita jadi pilot. Rasanya seneng aja gitu ngebayangin gue bisa naik pesawat gratis keliling dunia dan ditemenin sama pramugari-pramugari cakep. Oh okay, gue emang mental gratisan, dan iya gue dari kecil udah genit dan suka mbak-mbak. Puas?
Well, ngomong-ngomong soal pramugari, gue dulu pernah punya (ehem) pacar (yang sekarang jadi mantan) yang pengen banget jadi pramugari. Saking pengennya, dia kalo naik pesawat maunya bediri. Untung dia gak pernah diturunin di laut Jawa karena kelauan memalukannya itu. Btw, emang kalo dari fisik, dia cukup mumpuni. Nilai-nilai sekolah dia juga bagus dan otak lumayan encer. Yoa, dia keren banget emang. Mantan siapa dulu dong??! (Iya, ini memang bangga yang tidak pada tempatnya)
Suatu waktu, gue pernah nanya sama dia soal cita-citanya jadi pramugari ini. waktu itu kalo gak salah kita lagi makan ayam penyet deket kosan yang berada di salah satu jalan protokol kota Medan.
“Kamu kenapa pengen banget jadi pramugari sih?” gue nanya sambil nyomot sambel.
“Biar bisa terbang gratisan.” Dia ikutan nyomot sambel.
“Lha kok gitu? Gak elit banget alasan kamu sih?” gue pura-pura nggak terima, padahal itu juga alasan gue dulu pengen jadi pilot.
“Hmm, gimana ya?” Mimiknya mulai serius. “Ya abis aku pengen punya suami pilot.”
Dia ngikik dan gue langsung tempelin sambel ke idungnya.
Well, akhirnya dengan tinggi dan berat badan juga tampang dan kepintaran yang proporsional, dia mendaftar jadi pramugari dengan diiringi oleh parade tukang becak di sekitar rumahnya yang sengaja gue undang sekalian syukuran.
Semua proses usaha dia jadi pramugari waktu itu berjalan lancar, tapi ironisnya hubungan gue dan dia nggak selancar itu. Kita putus nggak lama setelah dia mulai menjalani tes. Belakangan gue denger kabar kalo dia udah berhasil jadi pramugari dan nikah sama seorang pilot. Gue ikut seneng juga jadinya. Oke, ini bukan scene galau apalagi curcol ya.
Btw, ada tisu?
Anyway!
Lepas dari semua hal di atas, kadang gue ngiri sama Superman yang bisa terbang dengan celana dalam di luar melayang-melayang di tengah angkasa tanpa ditangkep polisi. Maksud gue, gue bukan pengen ngikut pake celana dalam di luar dan melayang-layang, tapi gue pengen juga ngerasain bisa terbang tanpa bantuan apa-apa, tanpa alat apa-apa.
Keren aja gitu, kita bisa kemana aja yang kita mau, kapan aja, dan kerennya kita bisa nyoba kayang di atas awan. Defenisi gue tentang keren emang amat salah sepertinya.
Hmm. Tapi ya namanya juga manusia, kita Cuma bisa terbang dengan bantuan pesawat atau helikopter (atau kolor terbang). Ya kalo gak jadi pilot, kudu jadi pramugari atau keneknya pilot, atau ya jadi penumpang. Mungkin sensasinya beda, tapi kalo emang ada nyali, lu bisa coba terjun payung deh ntar. Tapi kalo bisa lu melakukannya di bawah pengawasan ahli. Kalo nggak, lu siap-siap aja nyangkut di pohon pinus, atau nyangsang di atep rumah orang, atau malah kecebur di laut dan jadi sarapannya hiu belang.
Krik.
Tapi belakangan gue akhirnya punya satu alasan baru kenapa gue suka berada di ketinggian ketika terbang (dengan pesawat tentunya). Itu karena pada saat-saat seperti itu, gue merasa amat sangat dekat dengan Tuhan. Dan doa-doa gue mungkin bisa lebih mudah didengar-Nya. Analogi yang aneh sih emang.
Sok mellow gitu gue yak? Sok filosofis :p
Oh iya, nih buat kamu yang mau jadi pramugari (kayak mantan gue), coba deh daptar disini nih, semoga berhasil ya! Gue mau pacaran dulu #pencitraan
*Brb, pake celana dalem di luar*
Filed under: Uncategorized | 1 Comment
Sebuah Awal
Dunia ini penuh rasa sakit. Juga penuh rasa bersalah dari kita semua. Hmm, dunia juga ternyata penuh dengan orang-orang yang senang berharap. Tunggu.. Tunggu.. Aku ralat perkataan barusan. Yang benar adalah; kita semua berharap. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, kita semua berharap. Mungkin itu salah satu tujuan mengapa kita dikirim di bumi dan percaya akan keberadaan Tuhan.
Ada yang berharap tentang dirinya sendiri, ada pula yang berharap untuk orang lain yang mungkin dia pedulikan. Mulai dari harapan yang paling kecil, hingga yang paling besar. Bahkan ada yang saking besarnya, jadi terdengar hampir mustahil. Hmm.. Seperti berharap apa yang sudah mati bisa bangun dan hidup kembali.
Well..
Bicara tentang kematian, ada analogi aneh yang mengatakan bahwa ada saat dimana orang yang sudah mati terkadang akan mendapatkan kesempatan dari Tuhan untuk menyelesaikan apa-apa yang belum selesai dilakukannya selama hidup merangkak di bumi. Sekali lagi. Mungkin itu namanya mukzijat.
Kadang aku berpikir, jika kesempatan itu datang kepadaku, apa itu akan aku terima? Hmm, pastinya iya. Lalu akan kubunuh diriku sendiri sebelum melakukan kebodohan itu lagi.
to be continue…
Filed under: Dua | Leave a Comment
Kita?
PErnahkah kamu mendengar tentang bulan merah jambu.
Juga pelangi di malam hari.
Atau waktu yang berjalan terlalu cepat sambil mengedip.
Semua.
Semua aku rasakan ketika kamu hadir, dan aku berjalan mendekat.
Satu per satu kalimat yang entah dari mana, meluncur keluar dari lisanku yang kamu sambut dengan semu merah di pipimu yang lembut.
Satu per satu dari kita terbuai melodi yang terangkai dari konspirasi ajaib semua penduduk bumi, untuk membuat aku jatuh lebih dalam, dan lebih dalam lagi pada senyumanmu yang membuat candu.
Satu per satu, hingga tak ada lagi ruang hati yang masih tersisa.
Satu per satu, berhenti, begitu bertemu dengan ragumu.
Pada akhirnya waktu dan Tuhan belum mengijinkan kedua hati kita saling menyapa. Dalam arti sebenarnya.
Waktu yang bijak, menahan langkah tergesa-gesaku yang tak tahu malu.
Tuhan Yang Maha Baik, menamkan hati yang cantik pada kamu yang entah mengapa begitu mudah untuk dijatuhi rasa. Dijatuhi cinta.
Lalu Detik.
Mata.
Hati.
Saling mengait.
Aku menunggu kamu. Berjalan dari masa lalu.
Menunggu tanda dari senyumanmu. Menunggu anggukan dari kesiapan. Menunggu takdir yang aku harap mempertemukan.
Pertemukan Kita.
Untuk tak berpisah.
Selamanya.
Semoga.
fin
pict from google.
Filed under: Cerita Seadanya | 1 Comment
“Hai, ini aku Raga. Dan kamu… pasti Auora.” Aku menyodorkan tangan pada wanita manis ber-cardigan cokelat muda yang sedang duduk di tepi meja sambil tersenyum. Dia tampak kaget, walau setelah itu dia turut menyambut tanganku dengan senyum tak kalah sumringah.
“Iya, aku Auora, Ga”
Ah lembut sekali suaranya.
Aku tersenyum. “Boleh aku ikut duduk?”
“Eh iya, silakan.”
“Terima kasih.”
Aku menarik sandaran kursi dan duduk di atas busanya yang tebal.
Seorang pelayan datang dan sebelum dia menyerahkan menu, aku langsung memesan teh hangat dan spaghetti untukku diriku sendiri dan cappuccino dan kentang goreng untuk Auora. Dia mengangguk dan pergi ke dapur sambil mencatat sesuatu di kertas yang dibawanya sambil mengingat-ingat. Auora terlihat memamerkan senyum lebarnya yang cantik mendapati aku yang memesan makanan dan minuman kesukaannya.
“So?” Kataku kemudian kepada Auora yang masih tersenyum.
“So? So apa, Ga?”
“Ya ini, kita akhirnya bertemu. Setelah.. berapa tahun?”
“3 tahun 4 bulan 15 hari.” Katanya yakin.
“Ah kamu selalu ingat. Iya, setelah 3 tahun 4 bulan dan 15 hari hanya berhubungan lewat… udara.”
Auora mengikik lucu. “Ya habis gimana ya.. hmm..”
“Padahal kita satu kota. Bahkan jarak rumah kita gak lebih dari dua blok.” Kataku pelan.
Auora yang tadi tertawa, mendadak reaksinya berubah.
“Jadi kamu tau alamat aku?!” Auora menatap tak percaya. “Selama ini?!”
Aku mengangguk. “Iya, sejak bulan pertama kita bersama. Untuk masalah ini, aku cukup kepo ternyata. Ah, lebih tepatnya demi kamu aku jadi selalu ingin tahu. Alamatmu, tempat kerjamu, dan lain-lainnya. Hehe.”
Ada jeda sebelum Auora kembali berbicara. Dia tampak bingung dan itu terlihat dari sikapnya yang asik menggigit bibir.
“Aku jadi penasaran.” Katanya lagi.
“Penasaran kenapa?”
“Kalau selama tiga tahun ini kamu udah tau alamatku, kenapa kamu nggak datang dan menemuiku?”
Aku tak langsung menjawab, karena pelayan yang tadi datang menyela sambil membawa pesanan dengan kepayahan.
“Selamat menikmati.”
“Terima kasih.” Kataku pada pelayan wanita yang murah senyum itu. Dia mengangguk pelan lalu pergi sambil membawa nampan.
Aku menyeruput teh hangat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Auora yang menunggu sambil tetap menggigit-gigit bibirnya gemas.
“Jawabannya sederhana, aku tak datang, karena kamu bilang kamu belum siap.”
Auora bengong. “Masa? Bukannya kamu bilang kamu penasaran banget sama aku?”
“Ya, aku penasaran dan amat sangat ingin ketemu kamu. Tapi..”
“Tapi apa?”
“Tapi kan kamu gak mau. Aku gak mau paksa. Nanti kamu malah gak nyaman jadinya.”
“Tapi kan kamu pengen banget ketemu!” Auora tampak masih tak percaya. “Masa sih kamu gak nekat nyamperin aku selama tiga tahun ini, Ga?!”
Melihat wajah Auora yang tampak gusar dan gemas itu, aku tak mau langsung menjawab. Aku hanya tersenyum lalu tanpa sadar sesekali mengelus kepalanya pelan.
“Ayo dong cerita. Kenapa?! Kamu ah..”
“Berisik ah.” Bukannya menjawab, aku memutuskan untuk memakan spaghetti dan membiarkan Auora yang ngedumel sendirian karena penasaran. Dumelan yang sama seperti biasanya, yang biasanya hanya aku dapati dari sambungan telepon sebelum tidur atau huruf-huruf besar berwarna merah di kolom chat kami ketika aku berada di kantor.
“Aku ngambek!” Katanya sambil manyun setelah capek ngedumel dan capek melihatku yang tak mempedulikan rengekannya.
“Baiklah.” Kataku.
Aku berhenti makan, berjalan ke kasir, membayar bill dan memberi tip. Lalu aku kembali ke meja lagi dan berkata, “Gimana kalau aku cerita sambil traktir kamu es krim di sudut jalan sana?”
Auora masih tetap manyun, tapi aku lalu mendorong kursi rodanya untuk berjalan keluar, dan menunjukkan ke dia apa itu cinta sebenarnya. Di luar sana. Di mana kehidupan berada.
Bersama-sama selamanya.
fin
pict from google.
Filed under: Uncategorized | 3 Comments


