<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Catatan alien imigran</title>
	<atom:link href="http://wandypopok.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wandypopok.wordpress.com</link>
	<description>Peringatan : Saya jarang pakai celana!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 31 Jan 2012 08:58:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wandypopok.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Catatan alien imigran</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wandypopok.wordpress.com/osd.xml" title="Catatan alien imigran" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wandypopok.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ingat Setahun Yang Lalu?</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com/2012/01/31/ingat-setahun-yang-lalu/</link>
		<comments>http://wandypopok.wordpress.com/2012/01/31/ingat-setahun-yang-lalu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jan 2012 04:42:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandypopok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandypopok.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Kemeja kotak-kotak, celana jeans belel dan tatanan rambut semi mohawk yang gagal. Yep, dengan dandanan mirip pengamen itu, aku berangkat dari tempatku dengan menggunakan taksi yang pengap oleh bau ketek supirnya, untuk menuju sebuah pusat keramaian di Selatan Jakarta, untuk menemuimu yang mungkin sudah menunggu. Entah konspirasi apa yang terjadi hingga akhirnya taksi yang aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=176&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://wandypopok.files.wordpress.com/2012/01/chamomile.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-177" title="chamomile" src="http://wandypopok.files.wordpress.com/2012/01/chamomile.jpg?w=500&#038;h=375" alt="" width="500" height="375" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Kemeja kotak-kotak, celana <em>jeans</em> belel dan tatanan rambut semi <em>mohawk</em> yang gagal. Yep, dengan dandanan mirip pengamen itu, aku berangkat dari tempatku dengan menggunakan taksi yang pengap oleh bau ketek supirnya, untuk menuju sebuah pusat keramaian di Selatan Jakarta, untuk menemuimu yang mungkin sudah menunggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah konspirasi apa yang terjadi hingga akhirnya taksi yang aku tumpangi terjebak macet di jalan kecil yang ramai oleh mobil pribadi itu. Merasa panik dengan kenyataan bahwa waktu tinggal beberapa menit lagi dan jarak yang ditempuh masih lumayan jauh, aku berpindah haluan ke Bus Transjakarta yang jalurnya masih lumayan steril dari kendaraan lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah lari-larian naik tangga penyebrangan, aku akhirnya bisa berdiri sempit-sempitan dengan puluhan orang bau ketek lainnya di dalam sebuah Bus Transjakarta berwarna abu-abu itu. Alhamdulillah, nggak sampai sepuluh menit aku sampai di tempat kita berdua janjian dengan kondisi mengenaskan karena sepanjang jalan diketekin abang-abang.</p>
<p style="text-align:justify;">Berbekal petunjuk seadanya dari seorang satpam yang kumisnya lebat naudzubillah, aku pun berlarian menuju tempat yang kamu sebutkan di sebuah pesan pendek beberapa menit sebelumnya tadi. Aroma <em>cologne</em> yang aku pakai asal-asalan sesaat sebelum pergi, sekarang terasa aneh setelah bercampur dengan keringat hasil lari-larian sedari tadi. Hasilnya, aku memiliki bau seperti anak sapi belum mandi yang dipakein <em>cologne</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">“keluar lift di lantai empat, langsung belok kanan. Di sana tempatnya. Makanannya enak-enak, Mas.” Begitulah pesan dari satpam berkumis aneh tadi. Dan ternyata benar, itu tempatnya. Lalu demi meyakinkan diri, aku membuka pesan pendek darimu sekali lagi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Aku di depan resto kebab nih. Kamu udah di mana? – </em><strong>xxxxx (+628560909898)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Setelah membaca pesan pendek itu, aku langsung mencari resto yang kamu maksud. Beruntung, resto kebab hanya ada satu di sana. Dengan perlahan, aku pun mendekat ke deretan-deretan kursi dan meja yang berada di depannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu, di situlah kamu berada. Di antara sebuah meja dan kursi dengan sandaran yang cukup tinggi. kamu sedang meminum <em>lemon tea</em> dari gelas plastik berwarna putih, ketika untuk pertama kalinya aku melihat sekaligus menyadari kalau ternyata kamu sangat cantik hari itu. Rambutmu yang dibiarkan tergerai manis, terlihat pas dengan baju yang kamu kenakan. <em>Sweet. </em>Samar-samar lagu <em>You’re buatiful</em> milik James Blunt bermain di kepalaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Sedetik kemudian, mendadak perutku mules. Kegugupan yang luar biasa besar menyergap dada dan mulai naik ke kepala. Tanpa pikir panjang, aku langsung berlari masuk ke lorong tempat di mana wastafel tempat cuci tangan berada. Dengan tidak sabaran, aku mencuci muka sambil berharap semoga ketegangan ini bisa lekas menghilang. Larut bersama debu dan kotoran yang sebelumnya menempel di wajahku yang kusam dan jerawatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah membasuh wajah dengan handuk kecil yang selalu aku bawa di dalam tas, aku mencoba mematut diri di depan cermin sekali lagi. Baju kotak-kotak yang tadi rapi, kini sudah kusut mungkin karena berdesak-desakkan di dalam Bus Transjakarta. Celana <em>jeans</em> yang tadi belel, jadi makin belel entah karena alasan apa. Hanya rambut semi <em>mohawk</em> gagalku yang masih berdiri dengan gagahnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi lepas dari itu, ada ketakutan luar biasa besar yang aku rasakan di dalam dada. Aku takut ada penolakan yang harus aku tangkap, ketika kamu mendapatiku yang mungkin tidak sesuai dengan harapan yang sudah kamu bangun sendiri di dalam kepalamu. Iya, ketakutan-ketakutan seperti ini selalu berhasil membunuh rasa pede pada setiap <em>blind date</em> di seluruh dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika sibuk mengatasi gugup itu, tanpa sengaja aku menangkap bayanganmu di cermin yang ada di hadapanku. Dari sana terlihat jelas kalau kamu sedang makan dengan pelan, sambil sesekali melihat ke sembarang arah. Mungkin kamu sedang mencariku.</p>
<p style="text-align:justify;">Demi memastikan bahwa itu beneran kamu, aku pun mengambil ponsel dan memencet tanda gagang telepon berwarna hijau setelah mencatut namamu dari dalam <em>phonebook</em>. Sambungan telepon masuk, dan dari bayangan kaca di hadapanku, terlihat jelas reaksi kamu yang terburu-buru mengangkat ponsel. Lalu aku menutup teleponnya, sedetik sebelum sempat diangkat oleh kamu yang lalu kebingungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Iya. Itu ternyata benar kamu. Dan mulesku makin menjadi-jadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku harus berani menghampiri. Tidak ada kata mundur dalam kamusku. Mau nggak mau aku harus berani. Aku terus-terusan menyemangati diri sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi aku mematut diri di depan cermin. Tampilan kusam tadi, kini berganti menjadi tampilan tidak kusam-kusam amat setelah mencuci muka. Sambil melafadzkan doa-doa langit, aku pun bergegas menghampiri kamu dari arah belakang.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hai..” Aku nyengir dan kamu kaget.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hei..”</p>
<p style="text-align:justify;">Tidak ada tanda-tanda penolakan, dan kita lalu bersalaman.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan detik-detik setelahnya, aku langsung jatuh cinta sama cara kamu tersenyum.</p>
<p style="text-align:center;" align="center">
<p style="text-align:center;" align="center">* * *</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Sekarang adalah satu tahun setelah hari itu, kita sudah menjadi lebih dewasa, lebih mengenal satu sama lain, lebih bisa saling menghargai dan lebih saling menyayangi. Kita sudah tahu kebiasaan masing-masing, kita sudah tahu keinginan masing-masing, kita sudah hapal cara untuk berbaikan ketika salah satu dari kita ngambek seharian. Kita sering tertawa bersama, tidak jarang pula menangis bersama. Tangisan atau tawa yang akhirnya kita habiskan di bawah selimut sampai ketiduran.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Kita sudah semakin pandai sebagai sepasang orang yang saling sayang.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Ada luka, ada tawa, ada sedih, ada kecewa, ada penolakan, ada penyesalan, ada kita. Ada kamu, ada aku, saling mengisi di saat-saat paling terpuruk dalam hidup kita masing-masing. Saling menguatkan, saling menunjukkan rasa sayang. Saling melengkapi, seperti sela-sela jemari yang saling mengisi ketika tangan kita berpegangan.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang kita semakin dewasa dan terus tumbuh bersama. Aku makin kecanduan keberadaan kamu. Aku pun semakin sering mengalami proses jatuh cinta pada orang yang sama, pada kamu. Aku juga semakin meyadari kalau secara pelan namun pasti, kamu sudah menjadi salah satu bagian paling penting dalam kehidupanku.</p>
<p style="text-align:justify;">Ya. Ini aku, orang yang sama yang selalu berusaha menjadi sebab bahagianya kamu sejak satu tahun belakangan. Orang yang sama yang akan berbagi peluk kapanpun kamu mau. orang yang sama yang akan selalu berada di tempatnya, hanya demi memastikan kamu baik-baik saja. Orang yang sama yang bersama-sama dengan kamu sudah banyak menyusun mimpi ini itu. Orang yang sama yang ingin menghabiskan hidup dengan terus menjadi <em>partner</em>-mu. Orang yang sama yang akan sayangi kamu apa adanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat satu tahun hubungan ini, kamu. Dan.. Selamat menempuh hidup yang baru, kita.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>I love you, sayang</em>.</p>
<p style="text-align:justify;" align="left"><em> </em></p>
<p style="text-align:center;" align="left"><strong><em>fin</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;" align="left">
<p style="text-align:justify;" align="left">
<p style="text-align:justify;" align="left"><em>P.s </em>: Surat ini ditulis sambil mendengarkan lagu When You Say Nothing At All-nya Ronan Keeting secara berulang-ulang. Lagu kesukaan kamu. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandypopok.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandypopok.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=176&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandypopok.wordpress.com/2012/01/31/ingat-setahun-yang-lalu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/42da26f68404a7de251d76a84c76fc13?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandypopok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wandypopok.files.wordpress.com/2012/01/chamomile.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">chamomile</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Is it a bird? Is it a plane? NO, IT’S SUPERMAN!</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com/2011/10/13/is-it-a-bird-is-it-a-plane-no-it%e2%80%99s-superman/</link>
		<comments>http://wandypopok.wordpress.com/2011/10/13/is-it-a-bird-is-it-a-plane-no-it%e2%80%99s-superman/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Oct 2011 13:18:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandypopok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandypopok.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Waktu kecil gue pernah bercita-cita jadi pilot. Rasanya seneng aja gitu ngebayangin gue bisa naik pesawat gratis keliling dunia dan ditemenin sama pramugari-pramugari cakep. Oh okay, gue emang mental gratisan, dan iya gue dari kecil udah genit dan suka mbak-mbak. Puas? Well, ngomong-ngomong soal pramugari, gue dulu pernah punya (ehem) pacar (yang sekarang jadi mantan) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=172&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Waktu kecil gue pernah bercita-cita jadi pilot. Rasanya seneng aja gitu ngebayangin gue bisa naik pesawat gratis keliling dunia dan ditemenin sama pramugari-pramugari cakep. Oh <em>okay</em>, gue emang mental gratisan, dan iya gue dari kecil udah genit dan suka mbak-mbak. Puas?</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Well</em>, ngomong-ngomong soal pramugari, gue dulu pernah punya (ehem) pacar (yang sekarang jadi mantan) yang pengen banget jadi pramugari. Saking pengennya, dia kalo naik pesawat maunya bediri. Untung dia gak pernah diturunin di laut Jawa karena kelauan memalukannya itu. Btw, emang kalo dari fisik, dia cukup mumpuni. Nilai-nilai sekolah dia juga bagus dan otak lumayan encer. Yoa, dia keren banget emang. Mantan siapa dulu dong??! (Iya, ini memang bangga yang tidak pada tempatnya)</p>
<p style="text-align:justify;">Suatu waktu, gue pernah nanya sama dia soal cita-citanya jadi pramugari ini. waktu itu kalo gak salah kita lagi makan ayam penyet deket kosan yang berada di salah satu jalan protokol kota Medan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu kenapa pengen banget jadi pramugari sih?” gue nanya sambil nyomot sambel.</p>
<p style="text-align:justify;">“Biar bisa terbang gratisan.” Dia ikutan nyomot sambel.</p>
<p style="text-align:justify;">“Lha kok gitu? Gak elit banget alasan kamu sih?” gue pura-pura nggak terima, padahal itu juga alasan gue dulu pengen jadi pilot.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm, gimana ya?” Mimiknya mulai serius. “Ya abis aku pengen punya suami pilot.”</p>
<p style="text-align:justify;">Dia ngikik dan gue langsung tempelin sambel ke idungnya.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Well</em>, akhirnya dengan tinggi dan berat badan juga tampang dan kepintaran yang proporsional, dia mendaftar jadi pramugari dengan diiringi oleh parade tukang becak di sekitar rumahnya yang sengaja gue undang sekalian syukuran.</p>
<p style="text-align:justify;">Semua proses usaha dia jadi pramugari waktu itu berjalan lancar, tapi ironisnya hubungan gue dan dia nggak selancar itu. Kita putus nggak lama setelah dia mulai menjalani tes. Belakangan gue denger kabar kalo dia udah berhasil jadi pramugari dan nikah sama seorang pilot. Gue ikut seneng juga jadinya. Oke, ini bukan <em>scene</em> galau apalagi curcol ya.</p>
<p style="text-align:justify;">Btw, ada tisu?</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Anyway</em>!</p>
<p style="text-align:justify;">Lepas dari semua hal di atas, kadang gue ngiri sama Superman yang bisa terbang dengan celana dalam di luar melayang-melayang di tengah angkasa tanpa ditangkep polisi. Maksud gue, gue bukan pengen ngikut pake celana dalam di luar dan melayang-layang, tapi gue pengen juga ngerasain bisa terbang tanpa bantuan apa-apa, tanpa alat apa-apa.</p>
<p style="text-align:justify;">Keren aja gitu, kita bisa kemana aja yang kita mau, kapan aja, dan kerennya kita bisa nyoba kayang di atas awan. Defenisi gue tentang keren emang amat salah sepertinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Hmm. Tapi ya namanya juga manusia, kita Cuma bisa terbang dengan bantuan pesawat atau helikopter (atau kolor terbang). Ya kalo gak jadi pilot, kudu jadi pramugari atau keneknya pilot, atau ya jadi penumpang. Mungkin sensasinya beda, tapi kalo emang ada nyali, lu bisa coba terjun payung deh ntar. Tapi kalo bisa lu melakukannya di bawah pengawasan ahli. Kalo nggak, lu siap-siap aja nyangkut di pohon pinus, atau nyangsang di atep rumah orang, atau malah kecebur di laut dan jadi sarapannya hiu belang.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Krik</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi belakangan gue akhirnya punya satu alasan baru kenapa gue suka berada di ketinggian ketika terbang (dengan pesawat tentunya). Itu karena pada saat-saat seperti itu, gue merasa amat sangat dekat dengan Tuhan. Dan doa-doa gue mungkin bisa lebih mudah didengar-Nya. Analogi yang aneh sih emang.</p>
<p style="text-align:justify;">Sok mellow gitu gue yak? Sok filosofis :p</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Oh iya, nih buat kamu yang mau jadi pramugari (kayak mantan gue), coba deh daptar <a href="http://www.facebook.com/pages/Citilink/37846458541?sk=app_151441281606931">disini</a> nih, semoga berhasil ya! Gue mau pacaran dulu #pencitraan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">*Brb, pake celana dalem di luar*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandypopok.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandypopok.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=172&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandypopok.wordpress.com/2011/10/13/is-it-a-bird-is-it-a-plane-no-it%e2%80%99s-superman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/42da26f68404a7de251d76a84c76fc13?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandypopok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sebuah Awal</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com/2011/09/08/sebuah-awal/</link>
		<comments>http://wandypopok.wordpress.com/2011/09/08/sebuah-awal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Sep 2011 10:08:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandypopok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dua]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandypopok.wordpress.com/?p=169</guid>
		<description><![CDATA[Dunia ini penuh rasa sakit. Juga penuh rasa bersalah dari kita semua. Hmm, dunia juga ternyata penuh dengan orang-orang yang senang berharap. Tunggu.. Tunggu.. Aku ralat perkataan barusan. Yang benar adalah; kita semua berharap. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, kita semua berharap. Mungkin itu salah satu tujuan mengapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=169&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Dunia ini penuh rasa sakit. Juga penuh rasa bersalah dari kita semua. Hmm, dunia juga ternyata penuh dengan orang-orang yang senang berharap. Tunggu.. Tunggu.. Aku ralat perkataan barusan. Yang benar adalah; kita semua berharap. Mau atau tidak mau, suka atau tidak suka, sadar atau tidak sadar, kita semua berharap. Mungkin itu salah satu tujuan mengapa kita dikirim di bumi dan percaya akan keberadaan Tuhan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada yang berharap tentang dirinya sendiri, ada pula yang berharap untuk orang lain yang mungkin dia pedulikan. Mulai dari harapan yang paling kecil, hingga yang paling besar.  Bahkan ada yang saking besarnya, jadi terdengar hampir mustahil. Hmm.. Seperti berharap apa yang sudah mati bisa bangun dan hidup kembali.</p>
<p style="text-align:justify;">Well..</p>
<p style="text-align:justify;">Bicara tentang kematian, ada analogi aneh yang mengatakan bahwa ada saat dimana orang yang sudah mati terkadang akan mendapatkan kesempatan dari Tuhan untuk menyelesaikan apa-apa yang belum selesai dilakukannya selama hidup merangkak di bumi. Sekali lagi. Mungkin itu namanya mukzijat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kadang aku berpikir, jika kesempatan itu datang kepadaku, apa itu akan aku terima? Hmm, pastinya iya. Lalu akan kubunuh diriku sendiri sebelum melakukan kebodohan itu lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>to be continue&#8230;</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandypopok.wordpress.com/169/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandypopok.wordpress.com/169/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=169&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandypopok.wordpress.com/2011/09/08/sebuah-awal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/42da26f68404a7de251d76a84c76fc13?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandypopok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kita?</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com/2011/07/01/kita/</link>
		<comments>http://wandypopok.wordpress.com/2011/07/01/kita/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 09:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandypopok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Seadanya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandypopok.wordpress.com/?p=162</guid>
		<description><![CDATA[PErnahkah kamu mendengar tentang bulan merah jambu. Juga pelangi di malam hari. Atau waktu yang berjalan terlalu cepat sambil mengedip. Semua. Semua aku rasakan ketika kamu hadir, dan aku berjalan mendekat. Satu per satu kalimat yang entah dari mana, meluncur keluar dari lisanku yang kamu sambut dengan semu merah di pipimu yang lembut. Satu per [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=162&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/07/waiting-on-the-bench.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-163" title="waiting-on-the-bench" src="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/07/waiting-on-the-bench.jpg?w=500&#038;h=312" alt="" width="500" height="312" /></a></p>
<p>PErnahkah kamu mendengar tentang bulan merah jambu.</p>
<p>Juga pelangi di malam hari.</p>
<p>Atau waktu yang berjalan terlalu cepat sambil mengedip.</p>
<p>Semua.</p>
<p>Semua aku rasakan ketika kamu hadir, dan aku berjalan mendekat.</p>
<p>Satu per satu kalimat yang entah dari mana, meluncur keluar dari lisanku yang kamu sambut dengan semu merah di pipimu yang lembut.</p>
<p>Satu per satu dari kita terbuai melodi yang terangkai dari konspirasi ajaib semua penduduk bumi, untuk membuat aku jatuh lebih dalam, dan lebih dalam lagi pada senyumanmu yang membuat candu.</p>
<p>Satu per satu, hingga tak ada lagi ruang hati yang masih tersisa.</p>
<p>Satu per satu, berhenti, begitu bertemu dengan ragumu.</p>
<p>Pada akhirnya waktu dan Tuhan belum mengijinkan kedua hati kita saling menyapa. Dalam arti sebenarnya.</p>
<p>Waktu yang bijak, menahan langkah tergesa-gesaku yang tak tahu malu.</p>
<p>Tuhan Yang Maha Baik, menamkan hati yang cantik pada kamu yang entah mengapa begitu mudah untuk dijatuhi rasa. Dijatuhi cinta.</p>
<p>Lalu Detik.</p>
<p>Mata.</p>
<p>Hati.</p>
<p>Saling mengait.</p>
<p>Aku menunggu kamu. Berjalan dari masa lalu.</p>
<p>Menunggu tanda dari senyumanmu. Menunggu anggukan dari kesiapan. Menunggu takdir yang aku harap mempertemukan.</p>
<p>Pertemukan Kita.</p>
<p>Untuk tak berpisah.</p>
<p>Selamanya.</p>
<p>Semoga.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;"><em><strong>fin</strong></em></p>
<p style="text-align:left;"><em>pict from google.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandypopok.wordpress.com/162/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandypopok.wordpress.com/162/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=162&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandypopok.wordpress.com/2011/07/01/kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/42da26f68404a7de251d76a84c76fc13?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandypopok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/07/waiting-on-the-bench.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">waiting-on-the-bench</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Maukah Kamu Berjalan di Sebelahku?</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com/2011/06/30/maukah-kamu-berjalan-di-sebelahku/</link>
		<comments>http://wandypopok.wordpress.com/2011/06/30/maukah-kamu-berjalan-di-sebelahku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jun 2011 06:42:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandypopok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandypopok.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[“Hai, ini aku Raga. Dan kamu&#8230; pasti Auora.” Aku menyodorkan tangan pada wanita manis ber-cardigan cokelat muda yang sedang duduk di tepi meja sambil tersenyum. Dia tampak kaget, walau setelah itu dia turut menyambut tanganku dengan senyum tak kalah sumringah. “Iya, aku Auora, Ga” Ah lembut sekali suaranya. Aku tersenyum. “Boleh aku ikut duduk?” “Eh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=155&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/06/restaurant_picture.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-157" title="restaurant_picture" src="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/06/restaurant_picture.jpg?w=500&#038;h=500" alt="" width="500" height="500" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">“Hai, ini aku Raga. Dan kamu&#8230; pasti Auora.” Aku menyodorkan tangan pada wanita manis ber-cardigan cokelat muda yang sedang duduk di tepi meja sambil tersenyum. Dia tampak kaget, walau setelah itu dia turut menyambut tanganku dengan senyum tak kalah sumringah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, aku Auora, Ga”</p>
<p style="text-align:justify;">Ah lembut sekali suaranya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tersenyum. “Boleh aku ikut duduk?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh iya, silakan.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Terima kasih.”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menarik sandaran kursi dan duduk di atas busanya yang tebal.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang pelayan datang dan sebelum dia menyerahkan menu, aku langsung memesan teh hangat dan spaghetti untukku diriku sendiri dan cappuccino dan kentang goreng untuk Auora. Dia mengangguk dan pergi ke dapur sambil mencatat sesuatu di kertas yang dibawanya sambil mengingat-ingat. Auora terlihat memamerkan senyum lebarnya yang cantik mendapati aku yang memesan makanan dan minuman kesukaannya.</p>
<p style="text-align:justify;">“So?” Kataku kemudian kepada Auora yang masih tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“So? So apa, Ga?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya ini, kita akhirnya bertemu. Setelah.. berapa tahun?”</p>
<p style="text-align:justify;">“3 tahun 4 bulan 15 hari.” Katanya yakin.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah kamu selalu ingat. Iya, setelah 3 tahun 4 bulan dan 15 hari hanya berhubungan lewat… udara.”</p>
<p style="text-align:justify;">Auora mengikik lucu. “Ya habis gimana ya.. hmm..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Padahal kita satu kota. Bahkan jarak rumah kita gak lebih dari dua blok.” Kataku pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">Auora yang tadi tertawa, mendadak reaksinya berubah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jadi kamu tau alamat aku?!” Auora menatap tak percaya. “Selama ini?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku mengangguk. “Iya, sejak bulan pertama kita bersama. Untuk masalah ini, aku cukup kepo ternyata. Ah, lebih tepatnya demi kamu aku jadi selalu ingin tahu. Alamatmu, tempat kerjamu, dan lain-lainnya. Hehe.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ada jeda sebelum Auora kembali berbicara. Dia tampak bingung dan itu terlihat dari sikapnya yang asik menggigit bibir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku jadi penasaran.” Katanya lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Penasaran kenapa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kalau selama tiga tahun ini kamu udah tau alamatku, kenapa kamu nggak datang dan menemuiku?”</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tak langsung menjawab, karena pelayan yang tadi datang menyela sambil membawa pesanan dengan kepayahan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Selamat menikmati.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">“Terima kasih.” Kataku pada pelayan wanita yang murah senyum itu. Dia mengangguk pelan lalu pergi sambil membawa nampan.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku menyeruput teh hangat sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Auora yang menunggu sambil tetap menggigit-gigit bibirnya gemas.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jawabannya sederhana, aku tak datang, karena kamu bilang kamu belum siap.”</p>
<p style="text-align:justify;">Auora bengong. “Masa? Bukannya kamu bilang kamu penasaran banget sama aku?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, aku penasaran dan amat sangat ingin ketemu kamu. Tapi..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi apa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi kan kamu gak mau. Aku gak mau paksa. Nanti kamu malah gak nyaman jadinya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi kan kamu pengen banget ketemu!” Auora tampak masih tak percaya. “Masa sih kamu gak nekat nyamperin aku selama tiga tahun ini, Ga?!”</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat wajah Auora yang tampak gusar dan gemas itu, aku tak mau langsung menjawab. Aku hanya tersenyum lalu tanpa sadar sesekali mengelus kepalanya pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ayo dong cerita. Kenapa?! Kamu ah..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Berisik ah.” Bukannya menjawab, aku memutuskan untuk memakan spaghetti dan membiarkan Auora yang ngedumel sendirian karena penasaran. Dumelan yang sama seperti biasanya, yang biasanya hanya aku dapati dari sambungan telepon sebelum tidur atau huruf-huruf besar berwarna merah di kolom chat kami ketika aku berada di kantor.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku ngambek!” Katanya sambil manyun setelah capek ngedumel dan capek melihatku yang tak mempedulikan rengekannya.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Baiklah.&#8221; Kataku.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku berhenti makan, berjalan ke kasir, membayar <em>bill </em>dan memberi tip. Lalu aku kembali ke meja lagi dan berkata, “Gimana kalau aku cerita sambil traktir kamu es krim di sudut jalan sana?”</p>
<p style="text-align:justify;">Auora masih tetap manyun, tapi aku lalu mendorong kursi rodanya untuk berjalan keluar, dan menunjukkan ke dia apa itu cinta sebenarnya. Di luar sana. Di mana kehidupan berada.</p>
<p style="text-align:justify;">Bersama-sama selamanya.</p>
<p style="text-align:center;"><strong><em>fin</em></strong></p>
<p style="text-align:left;"><em>pict from google.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandypopok.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandypopok.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=155&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandypopok.wordpress.com/2011/06/30/maukah-kamu-berjalan-di-sebelahku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/42da26f68404a7de251d76a84c76fc13?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandypopok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/06/restaurant_picture.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">restaurant_picture</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kembali Ke Masa Lalu Untuk Membunuh</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com/2011/06/26/kembali-ke-masa-lalu-untuk-membunuh/</link>
		<comments>http://wandypopok.wordpress.com/2011/06/26/kembali-ke-masa-lalu-untuk-membunuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jun 2011 09:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandypopok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Seadanya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandypopok.wordpress.com/?p=145</guid>
		<description><![CDATA[Awal januari, 2011.. Di sebuah food court luas yang terletak di selatan Jakarta, duduklah dua orang pria mengelilingi sebuah meja persegi yang berada tepat di sebelah tiang penopang atap bangunan. Mereka diam memaku sambil menatap lekat ke satu arah yang sama, yaitu ke arah sebuah lorong yang menjadi tempat di mana deretan westafel berada. “Ini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=145&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/06/cafe.jpg"><img title="cafe" src="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/06/cafe.jpg?w=500&#038;h=407" alt="" width="500" height="407" /></a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Awal januari, 2011..</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di sebuah food court luas yang terletak di selatan Jakarta, duduklah dua orang pria mengelilingi sebuah meja persegi yang berada tepat di sebelah tiang penopang atap bangunan. Mereka diam memaku sambil menatap lekat ke satu arah yang sama, yaitu ke arah sebuah lorong yang menjadi tempat di mana deretan westafel berada.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ini udah sejam, dan seharusnya gue udah sampai di tempat itu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lu yakin? Kejadian itu udah sepuluh tahun berlalu dan gue gak yakin ingatan lu bisa sekuat itu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Diamlah. Kita tunggu sebentar lagi. Mudah-mudahan perhitungan gue gak salah.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Yah, mungkin sebentar lagi.”</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu tanpa aba-aba, mereka menyesap minuman masing-masing sekali lagi secara bersamaan.</p>
<p style="text-align:justify;">Jodi, si pria berambut keriting, menyalakan rokoknya dan mengarahkan pandangannya secara random ke satu arah. Tepat di sebuah meja yang berada di depan sebuah resto kebab yang ramai, duduklah seorang wanita cantik membelakangi kerumunan. Dia terlihat sibuk dengan ponselnya, entah memeriksa apa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan jantung yang mendadak berdebar hebat, Jodi membalikan pandangannya. “Dia udah di sana, Gi.” kata Jodi sambil menepuk punggung temannya yang masih saja mengamati deretan westafel dengan penasaran.</p>
<p style="text-align:justify;">Agi, pria satunya lagi, yang tangannya tiba-tiba gemetar, langsung menghela nafas dalam-dalam dengan kepayahan. “Lu yakin itu dia?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, gue yakin itu dia. Dari foto yang lu tunjukin waktu itu. Dan juga foto 10 tahun sesudahnya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Sekali lagi Agi menarik nafasnya panjang-panjang, lalu mengarahkan pandangannya dengan hati-hati ke arah yang dimaksud oleh Jodi tadi, ke arah resto kebab. Tepat di sebelah orang yang mengantri panjang.</p>
<p style="text-align:justify;">Diapun terdiam. Itu wajah cantik yang sama, seperti waktu itu, pikirnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Terasa ada seribu jarum berkarat yang menusuk hatinya bersamaan saat itu juga. Sakit yang kelewatan, sakit yang karena itu dia hampir gila selama 10 tahun belakangan. Sakit karena rasa, yang nggak pernah kesampaian pada akhirnya. Bertahun-tahun, harus memimpikan wajah yang sama. Wajah yang berjalan di belakang, yang dulu sempat dia tinggalkan.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Iya, itu dia.&#8221; Katanya pelan.</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka lalu terdiam beberapa saat. Agi sibuk mengatur nafasnya, tapi gagal.</p>
<p style="text-align:justify;">“Segitu sayangnya ya lu sama dia?” Jodi membaca ekspresi Agi yang mendadak pucat.</p>
<p style="text-align:justify;">Agi memalingkan wajahnya. Dia meminum air banyak-banyak demi menenangkan degup jantung yang mendadak berdebar hebat sebelum memutuskan untuk menjawab. “Iya. Gue sayang sama dia. Dan gue nggak pernah tau kalo sayang gue ke dia bisa jadi begini.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Segitunya?”</p>
<p style="text-align:justify;">Dia menatap Jodi tajam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maksud lu apa?!” Agi mendesis keras, dan itu membuat nafasnya kembali memburu. Tangannya yang mengepal, bergetar hebat di balik meja.</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh.. maksud gue, segitu sayangnya sampai lu rela ngelakuin apa aja? Termasuk ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka berdua terdiam. Hening.</p>
<p style="text-align:justify;">Agi lalu menenangkan lagi nafasnya sebelum menjawab. “Lu nggak akan pernah bisa membayangkan gimana cinta bisa membuat gue jatuh sedalam ini. Tunggu sampai lu merasakannya, dan lu akan mengerti rasa itu dengan sendirinya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jodi kembali terdiam. “Lu tau kan apa resiko dari apa yang bakal lu lakuin sebentar lagi?”</p>
<p style="text-align:justify;">Agi mengangguk dalam. “Iya. Gue tahu. Gue akan mati atau dia yang mati. Dan lu&#8230; lu bisa kembali ke asal kita dan menjadikan penemuan kita itu berguna untuk orang banyak. Buat mereka yang menyesalkan masa lalunya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, baiklah. Terserah elu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jodi sudah putus asa. Usahanya untuk mempengaruhi Agi tentang resiko apa yang akan dilakukannya, tak pernah mau didengar sahabatnya itu. Yah, mungkin memang ini jalannya. Memang ini yang harusnya terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;">Mendadak seorang pria muda berkemeja kotak-kotak, berjalan terburu-buru masuk ke arah lorong westafel itu dengan tergesa-gesa. Ada tanda-tanda kepanikan yang terlihat di wajahnya, ini pasti karena dia datang terlambat sesuai waktu yang dijanjikan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Itu gue.” Agi berkata dengan tatapan tajam.</p>
<p style="text-align:justify;">Jodi melirik ke arah tatapan Agi dan mengangguk. “Ah.. iya. Culun banget lu dulu ya.”</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Sial lu.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Jodi nyengir. “Dan sekali lagi gue tanya, lu yakin mau ngelakuin ini, Gi?”</p>
<p style="text-align:justify;">Sambil memeriksa pistolnya sekali lagi, Agi menepuk pundak Jodi. “Iya, gue yakin. Dan&#8230; Thanks buat semuanya.” Agi tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ah, iya. Sama-sama.” Jodi terdiam, matanya berkaca.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sampai ketemu lagi di dunia sana, kawan.” Agi tersenyum lebar dengan mata yang juga berkaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Dia lalu berjalan santai menuju sosok dirinya sendiri yang lebih muda, yang sedang berdiri bingung mematung di depan kaca westafel. Di pinggangnya, Agi menyelipkan sebuah pistol dengan peluru penuh sambil menyembunyikan wajahnya di balik tutup kepala jumper hitam yang dia pakai.</p>
<p style="text-align:justify;">“Well, sepertinya gue harus pergi.” Jodi menggumam pada dirinya sendiri setelah melihat Agi sedikit lagi sampai ke lorong itu. Dia menyempatkan sekali lagi melihat ke arah wanita yang sedang menunggu itu. Wanita itu sedang meminum lemon tea dari cangkir berembun di hadapannya sambil celingukan mencari seseorang.</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Entah apa yang membuat Agi sebegitu cintanya sama dia.&#8221; Detik itu, Jodi belum juga mengerti cinta itu apa.</p>
<p style="text-align:justify;">DOR! DOR! DOR!</p>
<p style="text-align:justify;">Orang-orang panik mendengar suara pistol Agi yang meledak. Dan Jodi tau ini waktunya untuk pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bye, Gi.” Katanya pelan sambil mengeluarkan semacam remote dari dalam kantong jaket.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Awal januari 2021..</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dengan sekali pencet pada remote dengan banyak tombol itu, dia lalu tersedot ke sebuah lorong dimensi paralel penuh warna yang membuat perutnya mual. Meliuk-liuk aneh, hingga akhirnya dia bisa mendarat tersungkur di atas karpet laboratorium berwarna abu-abu tempatnya dan Agi bekerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Sebuah mesin waktu yang belum sempat dinamai, berdiri gagah di hadapan Jodi yang bangkit dari jatuh dengan wajah yang memucat. Sekarang dia harus kehilangan sahabatnya sendiri yang mati dengan membunuh dirinya sendiri di waktu tepat sepuluh tahun yang lalu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa bisa dia cegah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Gue memang nggak berguna!” Dia terduduk di lantai dengan mata berkaca-kaca.</p>
<p style="text-align:justify;"> Lama dia terdiam begitu, sampai..</p>
<p style="text-align:justify;">BRUK!</p>
<p style="text-align:justify;">Ada sebuah suara benda terjatuh yang berasal dari belakangnya. Dengan kebingungan, Jodi membalikkan badan dan.. menemukan Agi yang tersungkur dengan posisi abstrak di antara kursi dan meja.</p>
<p style="text-align:justify;">“Agi!”</p>
<p style="text-align:justify;">“Halo.” Agi melambaikan tangan. Nyengir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi apa? Bantuin gue dong.” Agi kepayahan bangkit. &#8220;Ya kalo lu gak ada kerjaan.&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa menjawab, Jodi membantu temannya itu berdiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Agi lalu duduk di atas kursi sambil mengusap-usap perutnya yang mual. “Kayaknya, kita harus memperbaiki sistem navigasi lorongnya nih. Gue jadi mual begini ini.” Katanya sambil meringis dengan wajah memerah.</p>
<p style="text-align:justify;">Jodi mingkem. Dia masih kebingungan. Bukankah harusnya Agi sudah.. mati?</p>
<p style="text-align:justify;">“Lu kenapa balik lagi?!” Jodi teriak. “Teorinya, ketika lu membunuh diri lu sendiri di masa lalu, lu juga akan mati. Lenyap. Nah sekarang kenapa balik lagi?! Gue denger dengan kepala sendiri suara pistol itu. Tiga kali!”</p>
<p style="text-align:justify;">Agi tersenyum lalu bangkit dari duduknya. kemudian dia berjalan ke pintu. “Masa lalu biar terjadi seperti itu. Apa adanya. Gue harusnya dari dulu udah bisa ikhlasin semuanya. Setidaknya, dia yang gue sayangi sampai detik ini bisa bahagia dengan kehidupannya sekarang.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Lha. Terus?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Terus apa? Itu.. itu udah lebih dari segalanya kok.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi..” Jodi masih syok.</p>
<p style="text-align:justify;">“Berisik lu ah. Yuk cari kopi. Gue haus banget hari ini. Gue yang traktir.” Agi berjalan keluar dari pintu dan meninggalkan Jodi yang mematung di sebelah mesin waktu tanpa nama itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Jodi menggaruk-garuk kepalanya. Berpikir. “Agi, kembali ke masa lalu untuk membunuh. Bukan membunuh diri, tapi membunuh egonya sendiri&#8230;” Dia geleng-geleng kepala, lalu berlari menyusul Agi menuju kedai kopi langganan mereka di seberang jalan.</p>
<p style="text-align:justify;"> Dia masih belum mengerti cinta itu apa. Yang dia tau, cinta selalu penuh dengan kejutan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Eh, Gi! Tungguin gue!”</p>
<p style="text-align:justify;">~~~</p>
<p style="text-align:justify;">Dan di suatu tempat di masa lalu, sepasang manusia tengah jatuh cinta. Tanpa pernah mereka tahu kejutan apa yang waktu sembunyikan di balik badannya.</p>
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;"><em>pic from google</em></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/06/cafe.jpg"><br />
</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandypopok.wordpress.com/145/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandypopok.wordpress.com/145/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=145&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandypopok.wordpress.com/2011/06/26/kembali-ke-masa-lalu-untuk-membunuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/42da26f68404a7de251d76a84c76fc13?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandypopok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/06/cafe.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cafe</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sudah</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com/2011/06/22/sudah/</link>
		<comments>http://wandypopok.wordpress.com/2011/06/22/sudah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 08:19:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandypopok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandypopok.wordpress.com/?p=138</guid>
		<description><![CDATA[Aku tak pernah tahu jika mencintai seseorang bisa menjadi salah. Sesalah ini. Aku juga tidak pernah tahu jika pada akhirnya, mencintaimu adalah kebenaran yang disalah-salahkan. Oleh siapa? Oleh aku kamu yang menolak rasa, atau oleh langit yang cemburu pada kita? Sudah, berhenti berdebat tentang kekalahan. Di kesempatan ini, aku hanya ingin menyampaikan apa yang hatiku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=138&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><a href="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/06/light-at-end-775502.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-142" title="light-at-end-775502" src="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/06/light-at-end-775502.jpg?w=500&#038;h=331" alt="" width="500" height="331" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Aku tak pernah tahu jika mencintai seseorang bisa menjadi salah. Sesalah ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku juga tidak pernah tahu jika pada akhirnya, mencintaimu adalah kebenaran yang disalah-salahkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh siapa?</p>
<p style="text-align:justify;">Oleh aku kamu yang menolak rasa, atau oleh langit yang cemburu pada kita?</p>
<p style="text-align:justify;">Sudah, berhenti berdebat tentang kekalahan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di kesempatan ini, aku hanya ingin menyampaikan apa yang hatiku coba pertahankan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di banyak tempat di hatiku, ada ramai tertulis jelas namamu dengan huruf tebal-tebal, dan warna-warni mencolok hingga bisa dengan mudah terbaca bahkan oleh orang yang hatinya buta.</p>
<p style="text-align:justify;">Tak ada lagi nama dia. Nama orang yang selama ini kamu benci dengan sangatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Iya, kini dia pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">Nama itu telah kuhapus rata dengan segenap kekuatan yang aku punya. Sebelum sempat aku beritahukan padamu. Tepat sebelum kamu melangkah pergi keluar dari ceritaku.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kamu? Iya, kamu juga pergi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan aku? Iya, sekarang aku sendiri.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kalian? Iya, kudoakan kalian bisa menemu bahagia yang lain di luar sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan kita? Iya, kita pernah bersama, tertawa, menangis dan berbagi mimpi.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan sekarang? Sekarang semuanya berakhir.</p>
<p style="text-align:justify;">Selamat tinggal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan soal nama-nama di hatiku? Sudah, semuanya sudah kuhapus. Sekarang yang ada hanya tinggal luka menganga. Berdarah merah, berkusam abu. Menunggu sembuh.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku pergi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandypopok.wordpress.com/138/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandypopok.wordpress.com/138/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=138&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandypopok.wordpress.com/2011/06/22/sudah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/42da26f68404a7de251d76a84c76fc13?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandypopok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/06/light-at-end-775502.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">light-at-end-775502</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Surat Untuk Pembunuh Bayaran</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com/2011/04/29/surat-untuk-pembunuh-bayaran/</link>
		<comments>http://wandypopok.wordpress.com/2011/04/29/surat-untuk-pembunuh-bayaran/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Apr 2011 15:31:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandypopok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandypopok.wordpress.com/?p=131</guid>
		<description><![CDATA[Hey Kila, gadis pembunuh bayaran pemilik senyuman lucu! Well, Kanada itu jauh ya? Kalo ke sana katanya karena saking jauhnya, kita harus memutar setengah lingkar bumi ya? Tapi menurut kamu, jarak itu cukup jauh nggak buat kita saling lupa? Atau, cukup jauh nggak untuk kita berhenti saling mendoakan demi kebaikan bersama? Aku tahu, jawaban kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=131&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Hey Kila, gadis pembunuh bayaran pemilik senyuman lucu!</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Well,</em> Kanada itu jauh ya?</p>
<p style="text-align:justify;">Kalo ke sana katanya karena saking jauhnya, kita harus memutar setengah lingkar bumi ya? Tapi menurut kamu, jarak itu cukup jauh nggak buat kita saling lupa? Atau, cukup jauh nggak untuk kita berhenti saling mendoakan demi kebaikan bersama?</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tahu, jawaban kita sama. Kita pasti sama-sama tegas menjawab tidak.</p>
<p style="text-align:justify;">Hmm.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut kamu, dua tahun itu lama nggak? Kalo di Jakarta, waktu segitu belum cukup banyak untuk bisa menyelesaikan sebuah proyek <em>fly over</em> sih kayaknya. Kita yang baru kenalan tiga bulan aja nggak berasa udah segini deketnya. Sedangkan Bang Toyib, udah tiga kali puasa tiga kali lebaran belom pulang-pulang sampai sekarang, istrinya anteng aja belom kecarian.</p>
<p style="text-align:justify;">Lalu kenapa kita harus kuatir dua tahun itu kelewat lama untuk kita bisa kembali saling menggenggam tangan? Lucu ya? <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">Jarak dan waktu.</p>
<p style="text-align:justify;">Entah mengapa, kita selalu takut akan dua hal itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Tapi aku mau, kali ini kita harus berani melawan. Jangan tunduk pada keadilan penyusun masa depan. Jangan pernah remehkan Tuhan sebagai penyedia kejutan dalam setiap pengorbanan yang kita lakukan. Jangan pernah lupa, jika ini bukanlah akhir dari segalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jangan gagal! Angkat dahimu ke depan. Buktikan pada dunia, bahwa kamu bisa menjadi seseorang di negeri asing sana. Banggakan kami, orang-orang yang mendokanmu. Banggakan kami, yang mungkin akan rindu pada lucu tingkahmu.</p>
<p style="text-align:justify;">Biarkan ada air mata ketika kita saling berpamitan. Biar ada tawa yang tertahan ketika kita saling menenangkan. Karena kita, takkan pernah bisa kalah oleh jarak setengah putaran bumi ataupun waktu dua tahun yang pasti akan berlalu begitu saja tanpa terasa apa-apa.</p>
<p style="text-align:justify;">Kamu tahu, kita akan saling merindu, karena memang sudah seharusnya seperti itu.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/04/priskila-eirene-3.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-132" title="Priskila Eirene-3" src="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/04/priskila-eirene-3.jpg?w=500" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan aku menyebutnya&#8230; keajaiban persahabatan.</p>
<p style="text-align:justify;">Baiklah. Sampai ketemu lagi, pembunuh bayaran <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>#NowPlayingBerulangUlang Yellow &#8211; Coldplay</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandypopok.wordpress.com/131/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandypopok.wordpress.com/131/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=131&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandypopok.wordpress.com/2011/04/29/surat-untuk-pembunuh-bayaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/42da26f68404a7de251d76a84c76fc13?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandypopok</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://wandypopok.files.wordpress.com/2011/04/priskila-eirene-3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Priskila Eirene-3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tunggu Aku, Aku Pulang..</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com/2011/04/21/tunggu-aku-aku-pulang/</link>
		<comments>http://wandypopok.wordpress.com/2011/04/21/tunggu-aku-aku-pulang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 13:03:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandypopok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Seadanya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandypopok.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Deretan senjata AK-47 berbaris rapi di atas meja panjang yang berada di sebelah sebuah rak besi. Rak itu berisikan banyak makanan kering yang dibungkus seperti kemasan susu formula bayi. Di seberang meja, duduk dua orang dengan jeda pangkat berbeda sambil memegang masing-masing cangkir kopi mereka. “Bagaimana, Jim?” Kata Bill sambil memperhatikan gambar Donal Bebek pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=128&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Deretan senjata AK-47 berbaris rapi di atas meja panjang yang berada di sebelah sebuah rak besi. Rak itu berisikan banyak makanan kering yang dibungkus seperti kemasan susu formula bayi. Di seberang meja, duduk dua orang dengan jeda pangkat berbeda sambil memegang masing-masing cangkir kopi mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">“Bagaimana, Jim?” Kata Bill sambil memperhatikan gambar Donal Bebek pada cangkirnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya?” Jim menjawab. “Bagamana apanya?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Istrimu. Sudah melahirkan?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh, kata dokter mungkin bulan depan.”</p>
<p style="text-align:justify;">“<em>Good</em>.” Bill tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya. Hehe.” Jim ikut tersenyum.</p>
<p style="text-align:justify;">Malam pun semakin pekat, dan waktu tanpa terasa hampir menyentuh pukul 12 malam. Angin khas gurun kembali memeluk masing-masing orang yang berada di sana. Angin yang dingin, tajam menusuk ekstrem hingga ke tulang. Bill dan Jim merapatkan jaket mereka, udara malam ini lebih dingin dari biasanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau beruntung, Jim. Memilikki istri cantik, dan akan segera memilikki anak yang pastinya cantik seperti ibunya, atau hebat seperti ayahnya.” Bill berbicara sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi pantai yang didudukinya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jim tersenyum mendengar perkataan atasannya itu. “Dia pasti cantik seperti ibunya. Dari dulu aku ingin memilikki seorang putri, entah mengapa.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, semoga.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Hahaha, amin.”</p>
<p style="text-align:justify;">Bill mengangkat gelas kopinya lalu berkata, “Untuk putri cantikmu, dan untuk insyafnya para tentara pemberontak yang keras kepala ini. Cheers.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jim spontan ikut mengangkat cangkirnya. “Cheers!”</p>
<p style="text-align:justify;">Mereka lalu meminum kopinya sedikit, dan kembali terdiam beberapa saat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa yang kau pikirkan tentang istrimu? Apa kau yakin dia di sana setia?” Kata Bill kemudian.</p>
<p style="text-align:justify;">“Maksudmu?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Perkataanku sudah jelas, Jim. Jangan tersinggung ya. Kau tahu, rasa sepi terkadang membuat orang jadi lupa arti setia.” Bill mencoba menjelaskan. “Dan hei, kita sudah lebih enam bulan berada di sini. Jauh dari rumah, dan kau juga jauh dari istrimu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jim tak langsung menjawab, dia menarik nafas, menunduk sebentar lalu mengangkat kepalanya dengan senyuman lebar.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau tahu, Bill. Istriku adalah wanita terhebat di dunia. Aku dan dia berpacaran hampir enam tahun lamanya, sebelum pada akhirnya tahun lalu kami menikah. Hebatnya, tak pernah sekalipun aku mendengar dia mengeluh tentang segalanya. Dia hanya akan tersenyum dan memelukku pada priode sulit hubungan kami.”</p>
<p style="text-align:justify;">Bill mendengarkan dengan tekun. Senyumannya seolah meminta Jim untuk bercerita lebih banyak.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sewaktu kuliah, dia termasuk salah satu mahasiswi tercantik di sana. Dan aku, hanya seorang pemain sepak bola yang tidak terlalu menonjol di klub. Namun ketika akhirnya aku berani mengungkapkan rasa, dia tanpa menjawab apa-apa mencium dan memelukku lama sore itu. Entahlan, dia luar biasa. Teramat luar biasa.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau pasti sangat menyayanginya.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ada jeda lagi sebelum Jim menjawab.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sejak pertama kali bertemu dengannya, aku jatuh cinta. Juga sebelum dan sesudah ciuman pertama kami, aku jatuh cinta. Bahkan sore tadi aku jatuh cinta lagi, setelah hanya mendengar suara lembut miliknya dan melihat senyuman manis yang terkurung dalam fotonya di dompetku. Iya, aku sangat mencintainya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Kau pasti merindukannya sekarang.” Kata Bill lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya. Aku merinduinya sekarang, tadi, dan nanti.”</p>
<p style="text-align:justify;">Kali ini Bill yang menarik nafas panjang. “Kalian pasangan yang hebat.”</p>
<p style="text-align:justify;">Jim menjawab dengan senyuman, dan mereka kembali terdiam beberapa saat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Jadi.. Apa yang akan kau lakukan setelah semua ini usai?” Bill akhirnya kembali membuka suara.</p>
<p style="text-align:justify;">Jim tak langung menjawab, dia meletakkan cangkirnya di atas meja lalu menarik nafas perlahan. “Entahlah. Aku hanya ingin pulang. Memeluk istriku, dan menemaninya di detik-detik kelahiran anak pertama kami. Hanya itu..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Sederhana ya?” Bill tersenyum sambil memukul pundak Jim.</p>
<p style="text-align:justify;">“Ya, sesederhana itu.” Jim tersenyum miris.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudahlah, semua pasti akan cepat berlalu. Aku janji, kau akan segera pulang.” Kata Bill bersungguh-sungguh.</p>
<p style="text-align:justify;">“Yah, aku akan pulang. Tapi di dalam mimpi.” Jim terkekeh mendengar ocehan atasannya itu. Karena dia tahu, kepulangan takkan mungkin bisa dilakukan di dalam priode agresi kecuali ayahmu adalah seorang jenderal.</p>
<p style="text-align:justify;">“Percaya padaku. Selamat malam.” Bill tersenyum lalu menenggelamkan diri dalam kantuknya.</p>
<p style="text-align:justify;">Jim memandangi sekelilingnya, pemandangan yang sama yang telah disaksikannya beberapa bulan belakangan. Dia rindu rumah, rindu istrinya. Malam itu, dia tidur sambil memeluk foto istrinya yang sedang tersenyum cantik, lalu berdoa.</p>
<p style="text-align:justify;" align="center">* * *</p>
<p style="text-align:justify;">“Huah!” Jim terpekik kaget. Terbangun dari tidur dalam keadaan terkejut terasa tak begitu mengenakkan ternyata. Ternyata dia tertidur dengan kepala menyadar di tepi meja sambil memegangi foto istrinya. Seperti sebuah kilas film, ingatannya kembali pada kejadian di malam sebelumnya tanpa perintah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kapten Bill?” gumam Jim perlahan menyebut nama atasannya yang telah gugur seminggu lalu karena ranjau darat, juga tanpa perintah.</p>
<p style="text-align:justify;">“God..” Sekarang dia mengerti, semua tadi hanya mimpi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi ini..” Jim bergerak cepat meraih sebuah benda. Cangkir bergambar Donal Bebek milik Letnan Bill. Seakan tak percaya, Jim hanya diam dengan mulut setengah menganga. Degup jantungnya mendadak berdetak lebih cepat dari biasa.</p>
<p style="text-align:justify;">“JIIIIIM!! Kau di sana?” Sebuah suara berat mengagetkan Jim yang sedang berpikir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, aku di sini, Ron.”</p>
<p style="text-align:justify;">Ron lalu masuk ke dalam tenda.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh, kau semalaman tidur di sini ya?” Ron mendekat sambil menyerahkan sebuah amplop.</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa ini?” Jim bertanya heran.</p>
<p style="text-align:justify;">“Baca saja. Aku harus menyebarkan ini semua ke beberapa orang beruntung lainnya.” Ron menepuk pundak Jim lalu melangkah keluar dari dalam tenda.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh, okay.” Jim menggaruk kepalanya yang tak gatal.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan tangan yang entah mengapa bergetar, Jim mencoba membuka amplop berwarna coklat itu. Perlahan dia mengambil surat resmi yang berada di dalam sana, dan membacanya dengan suara pelan.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>&#8230;dengan referensi dari Jendral Peter Elias, maka Anda yang bernama Jim Ferro akan dipindah tugaskan dan mendapat kenaikan pangkat ganda untuk bertugas di pangkalan militer pusat negara, dimulai 3 hari sejak surat ini diterima. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Waktu terasa membeku.</p>
<p style="text-align:justify;">Seketika, Jim berkata dengan suaranya yang bergetar hebat. “Bill, di mana pun kau sekarang. Terima kasih, kawan. Aku&#8230; pulang.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:center;">* * *</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>note : terinspirasi dari beberapa bait dalam lagu Dear God &#8211; Avenged Sevenfold <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandypopok.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandypopok.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=128&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandypopok.wordpress.com/2011/04/21/tunggu-aku-aku-pulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/42da26f68404a7de251d76a84c76fc13?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandypopok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cantik itu, Kamu.</title>
		<link>http://wandypopok.wordpress.com/2011/04/19/cantik-itu-kamu/</link>
		<comments>http://wandypopok.wordpress.com/2011/04/19/cantik-itu-kamu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Apr 2011 15:40:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>wandypopok</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Seadanya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wandypopok.wordpress.com/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[“Menurut kamu yang ini gimana?” Kata Asti yang sedang menunjukkan beberapa buah pernak-pernik untuk resepsi pernikahan yang berupa handuk-handuk kecil berhias manik-manik, pada Rangga. “Iya.” Rangga menjawab sekedarnya, sambil terus menatap lekat wajah wanita yang sedang bertanya. “Iya apaaaaa? Kamu ini dari tadi ditanya iya-iya mulu ih.” Kata Asti kesal. Dia lalu melempar tisu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=123&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">“Menurut kamu yang ini gimana?” Kata Asti yang sedang menunjukkan beberapa buah pernak-pernik untuk resepsi pernikahan yang berupa handuk-handuk kecil berhias manik-manik, pada Rangga.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya.” Rangga menjawab sekedarnya, sambil terus menatap lekat wajah wanita yang sedang bertanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya apaaaaa? Kamu ini dari tadi ditanya iya-iya mulu ih.” Kata Asti kesal. Dia lalu melempar tisu yang sejak tadi dipegangnya ke wajah Rangga yang masih terus sumringah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hehe..” Rangga malah cengengesan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu ini. Huh. Lihat aja nanti kalo resepsinya berantakan, semua-semuanya kamu bilang terserah aku sih.” Asti lanjut ngomel-ngomel.</p>
<p style="text-align:justify;">Rangga nyengir.</p>
<p style="text-align:justify;">Di tempat itu, hanya ada mereka berdua. Di sekeliling meja taman beratapkan payung pantai yang sofanya mereka duduki, tak ada seorang pun yang terlihat ikut berada di sana. Hanya ada beberapa pohon beraneka jenis yang tumbuh dengan berlapiskan rerumputan hijau segar yang rapi dan juga beberapa jenis bunga yang terlihat gemuk dengan perawatan ahli Mang Dadang si tukang kebun berpengalaman.</p>
<p style="text-align:justify;">Asti masih sibuk dengan kegiatannya melihat-lihat contoh pernak-pernik untuk dicocokkan dengan katalog yang ada di tangan kirinya. Sementara Rangga, dia hanya sibuk memusatkan perhatiannya pada setiap detil gerak Asti dengan mulut sedikit menganga.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kamu cantik sekali sih, sayang.” Ujar Rangga tiba-tiba.</p>
<p style="text-align:justify;">“Duh, apa sih kamu?” Asti menatap sinis. Kegiatannya memilah pernik untuk resepsi terganggu oleh rayuan Rangga. Terganggu dengan cara paling menyenangkan memang.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat reaksi Asti, Rangga lalu mengangkat punggungnya yang sejak tadi menyandar pada sandaran empuk sofa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hei, jawab dong. Kok bisa sih cantik banget gitu? Bagi dong resepnya.” Rangga mengedipkan matanya beberapa kali sambil tersenyum genit.</p>
<p style="text-align:justify;">“Duh, apa sih kamuuuuu?” wajah Asti mulai memerah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Tuh kan kamu, pelit ah. Untung cantik, jadi biarpun pelit masih bisa dimaafin.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Apa sih kamuuu? Genit mulu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku kan cuma nanya, rahasia kamu apa kok bisa jadi secantik itu. Bisa tetap cantik sejak pertama kita bertemu dulu.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Baiklah..” Asti tampak sudah mulai bisa menguasai malunya. “Sini dekatkan telinga kamu, tuan genit.”</p>
<p style="text-align:justify;">Rangga pun menurut lalu mendekatkan sisi wajah sebelah kanannya pada Asti yang telah bersiap membisikkan sesuatu.</p>
<p style="text-align:justify;">“Rahasianya adalah Ra-ha-sia.” Lalu Asti tersenyum manis sambil mengacak rambut milik rangga yang kemudian hanya terkekeh kecil sambil membenarkan kembali posisi duduknya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm, baiklah jika rahasia kamu itu adalah rahasia. Aku akui kamu mungkin memang cantik dari sananya.” Kata Rangga lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya dong.” Asti mengangguk cepat.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hehehe, oke. Tapi, bolehkan saya bertanya sekali lagi pada kamu, nona cantik?” Rangga kembali mengedipkan matanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Baiklah, sekali saja. Hanya sekali saja, jadi siapkan pertanyaan terbaikmu, tuan genit.” Asti terkekeh setelah menyelesaikan pertanyaannya. Sekarang pikirannya tak lagi terbagi dengan pernak-pernik resepsi pernikahan lagi ternyata.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hmm, baiklah. Sebelumnya aku ingin mengatakan sesuatu tentang pertanyaan yang akan kutanyakan ini.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, tuan? Apa itu? Nona cantik ini siap kok mendengarkan dengan segala kerendahan hati.” Asti nyengir.</p>
<p style="text-align:justify;">“Begini, sebenarnya pertanyaan ini sejak lama ingin kutanyakan. Tapi..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi apa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Tapi aku takut nona cantik marah lalu berubah pikiran, dan memilih lari dari kenyataan yang seharusnya kamu habiskan denganku bersama-sama. Selamanya.” Ujar Rangga berlebihan.</p>
<p style="text-align:justify;">“Wah, apa begitu berbahayanya pertanyaan ini?” Asti tampak mulai lebih tertarik pada tiap detil perkataan Rangga.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sangat! Karena itu, maukan nona cantik ini berjanji takkan pergi jika memang nanti jawabannya adalah ‘iya’?” Rangga tampak mencoba memasang tampang kuatir yang dibuat-buat.</p>
<p style="text-align:justify;">Asti lalu memainkan telunjuknya di bibir, tampak berpura-pura berpikir, lalu menjawab, “Hmm, baiklah, tuan genit.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Syukurlah.” Rangga mengelus dadanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Rangga menarik nafas dan melanjutkan perkataannya, “Pertanyaannya adalah.. Di mana sih nona cantik, hmm, menyimpan sayap nona selama ini?”</p>
<p style="text-align:justify;">Asti mengerutkan dahi. “Sayap?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, sayap. Masa iya, bidadari nggak punya sayap?” Rangga nyengir lebar kali ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Hening.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sayaaaaang. Garing ah.” Asti berujar malu. Wajahnya memerah penuh dan matanya tampak menitikkan air mata.</p>
<p style="text-align:justify;">Melihat wanitanya seperti menitikkan air mata, Rangga spontan berdiri dan menghampiri Asti di tempat duduknya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hei, terima kasih ya.” Rangga mengusap sisa air mata Asti yang ada tersisa.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hehe, aku kok jadi emosional banget ya? Malu ah nangis karena garingnya kamu.” Kata Asti sambil tertawa kecil. “Oh iya, terima kasih untuk apa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Terima kasih telah sudi menjadi milikku selama ini.” Tutup Rangga dengan sebuah pelukan dalam.</p>
<p style="text-align:justify;">Asti tak lagi berkata-kata, hanya menjawab dengan pelukan yang sama hangatnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan kamu, adalah wanita tercantik di dunia.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan kamu, adalah pria yang beruntung memilikkinya. Hihi.”</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Mendadak dari arah pintu rumah, dua orang bocah berlari menyerbu liar sambil memamerkan tawa riang mereka.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kakeeeek! Neneeeek!</p>
<p style="text-align:justify;">Asti dan Rangga tampak kaget sesaat, sampai mereka mengenali keduanya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Dinooo! Rimaaaa!” Asti melompat dari tempat duduk, dan menyerbu anak-anak bermata biru itu. “Nenek kangen sekali dengan cucu-cucu nenek ini deh.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku juga lho, Nek..” Kata Dino.</p>
<p style="text-align:justify;">“Aku juaaaa! Aku jugaaaa!” Rima tak mau kalah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kakek jugaaaa! Kakek jugaaaa!” Rangga ikut menyerbu dengan suaranya yang dimirip-miripkan dengan suara milik kedua cucunya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hehehehehe.” Tawa keempatnya pecah.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang wanita muda lalu menyusul ke bangku taman dengan antusias yang sama. “Ma.. Pa..” dia menyalami dan memeluk Asti dan Rangga bergantian. Sementara Dino dan Rima berlarian mengejar kupu-kupu yang terbang di atas bunga melati tepat di sebelah kolam.</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh iya, itu pernak-pernik buat resepsian Andre udah dipilih kan, Ma, Pa? Tuh anaknya malah main futsal sama temen-temennya. Pingit aja dong, Maaaa. Dasar adik durhaka tuh dia, ini aku atau dia sih yang mau nikah??” Rengek wanita yang bernama Dira itu, putri pertama Asti dan Rangga, juga ibu dari Dino dan Rima.</p>
<p style="text-align:justify;">“Sudah sudah ah, jangan galak sama adik kamu. Ini juga udah Papa dan Mama pillih kok. Kita suka yang handuk itu saja. Lucu.” Kata Rangga cepat sambil merangkul pundak Dira.</p>
<p style="text-align:justify;">Asti tertegun.</p>
<p style="text-align:justify;">“Nah, aku juga suka yang itu..” Kata Dira setuju. “Baiklah.. Duh, itu anak-anak kok malah main tanah. Sebentar ya Ma, Pa.. Dinoooo! Rimaaaaa!” Dira berlari pontang panting meninggalkan Asti dan Rangga yang kembali duduk di sofa bangku taman.</p>
<p style="text-align:justify;">Asti melirik, “Aku pikir kamu nggak perhatiin, Pa.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Perhatian apa?”</p>
<p style="text-align:justify;">“Handuk tadi..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Oh..”</p>
<p style="text-align:justify;">Sebelum menlanjutkan jawabannya, Rangga mengelus rambut beruban milik Asti perlahan. “Semua tentangmu takkan ada yang terlewatkan oleh keseluruhan umurku, sayang. Karena aku, mencintai kamu dengan terlalu, mencintai kamu, hai nona dengan wajah tercantik yang pernah ada di hidupku.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Dan sekarang aku tambah yakin, bahwa sumpah setia tiga puluh tahun lalu itu, bukanlah sebuah janji biasa. Terima kasih, lelakiku. Mudah-mudahn ini bisa lebih dari limat puluh tahun, atau mudah-mudahan selamanya.”</p>
<p style="text-align:justify;">“Amin. Hmm.. Mungkin ini yang namanya jodoh..”</p>
<p style="text-align:justify;">“Mungkin.”</p>
<p style="text-align:justify;">&#8220;Amiiin..&#8221;</p>
<p style="text-align:justify;">Senja itu, mereka berdua hampir lupa cara untuk menangis sedih lagi selama sisa umur yang mereka punya. Selamanya, sampai maut jadi pemisah.</p>
<p style="text-align:center;">* * * * *</p>
<p style="text-align:justify;"><em>note : biarpun nggak nyambung, tapi cerita ini lahir karena lagu Yellow milik Coldplay, semoga berkenan <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wandypopok.wordpress.com/123/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wandypopok.wordpress.com/123/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wandypopok.wordpress.com&#038;blog=18096961&#038;post=123&#038;subd=wandypopok&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wandypopok.wordpress.com/2011/04/19/cantik-itu-kamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/42da26f68404a7de251d76a84c76fc13?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wandypopok</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
